Fase yang dialami hampir semua manusia dewasa adalah menikah. Berumah tangga itu ibarat dua anak burung yang baru belajar mandiri lepas dari sarang induknya masing-masing.
Saat dua anak burung ini bertemu mereka akan bekerja sama belajar membangun sarang mereka dengan mengumpulkan ranting satu demi satu untuk dibentuk jadi sebuah sarang. Mereka belum berpengalaman maka kadang terjadi kesalahahpahaman dalam menyusun ranting-ranting itu bahkan kadang bentuk sarangnya tidak sesuai harapan mereka.
Begitu pun manusia, saat dua insan memasuki gerbang pernikahan, sesungguhnya mereka sedang belajar membangun rumah tangga setahap demi setahap, walau sulit dan penuh rintangan. mereka harus dapat menumpuk bata-bata pengertian yang direkat oleh kesabaran, dipoles dengan lapang dada dan saling menerima untuk membentuk dinding kesetiaan dan komitmen agar berdiri rumah yang sakinah, mawadah dan warahmah
Tahun-tahun pertama sesungguhnya masa-masa sulit untuk saling berkompromi dan kekuatan cinta di uji.Apalagi jika ada campur tangan dari keluarga, karena pernikahan sesungguhnya bukan hanya menyatukan dua insan tetapi juga dua keluarga. Saat anak- anak hadir kedewasaan kita pun ditempa dan kasih sayang serta kesetiaan di uji. Semakin berlalunya waktu cinta dengan debaran seperti saat pertemuan pertama dulu mungkin sudah tidak terasa tapi semakin kokoh karena saling mempengaruhi dan tergantung satu sama lain lebih seperti teman seumur hidup. Kadang kita lihat suami-istri yang telah berumah tangga puluhan tahun wajahnya semakin mirip, itulah soul mate.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar